Diskusi ‘Nusantara Virtual Café’ PPI UK: Peran Budaya dalam Implementasi Manajemen Pengetahuan

by -136 views
Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom (PPI UK) menggelar diskusi bertajuk 'Nusantara Virtual Café' Foto: Muhammad Yorga Permana/ Departemen Riset dan Kajian Strategis, PPI United Kingdom
Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom (PPI UK) menggelar diskusi bertajuk 'Nusantara Virtual Café' Foto: Muhammad Yorga Permana/ Departemen Riset dan Kajian Strategis, PPI United Kingdom

London, indomaritim.id – Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom (PPI UK) menggelar diskusi bertajuk ‘Nusantara Virtual Café’, Sabtu, (27/2/2021) pagi waktu London, Inggris. Dalam diskusi daring yang dihadiri oleh ratusan pelajar Indonesia di Inggris Raya tersebut, perwakilan pelajar, akademisi, dan pemerintah membedah peran penting manajemen pengetahuan bagi organisasi di tengah disrupsi pandemi COVID-19. Diskusi ini dimoderatori oleh Fanny Diandra, mahasiswi magister dari Sheffield Hallam University.

Dalam sambutannya, Gatot Subroto, Ketua PPI UK, mengungkapkan keinginan PPI UK untuk menawarkan gagasan baru tentang urgensi manajemen pengetahuan bagi pembangunan Indonesia.

“Menurut kami, ini adalah Blue Ocean Strategy bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah,” ungkap Gatot Subroto yang juga merupakan mahasiswa doktoral di University College of London ini.

Pada diskusi ini, Rionald Silaban, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementerian Keuangan menceritakan bagaimana Kemenkeu bertransformasi menjadi organisasi pembelajar di sektor publik dengan mengandalkan manajemen pengetahuan. Kemenkeu mengembangkan sistem manajemen pengetahuan untuk memastikan 82 ribu pegawai di dalamnya terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.

“Jika sebelumnya pembelajaran hanya sebatas pada diklat dan pengetahuan hanya terdokumentasi dalam bentuk bahan ajar, maka sistem manajemen pengetahuan membuat pengetahuan lebih mudah diakses kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun,” papar Rionald.

Namun, Rionald menekankan bahwa kunci keberhasilan dalam implementasi manajemen pengetahuan sebenarnya terletak pada budaya organisasi. “Pada akhirnya ini adalah soal budaya. Sistem yang baik tidak akan ada hasilnya tanpa adanya budaya pembelajar dan semangat untuk memanfaatkan teknologi yang telah tersedia,” ungkap Rionald yang juga merupakan Direktur Utama LPDP.

Di Kemenkeu, Rionald menjabarkan tiga hal yang dilakukan untuk membangun budaya pembelajar tersebut. “Pertama adalah adanya komitmen pemimpin unit untuk mendorong penerapan system. Kedua pembelajaran harus berbasis pengalaman kerja di lapangan, bukan hanya di dalam kelas pelatihan. Terakhir adalah pentingnya coaching dan mentoring antara atasan dan bawahan untuk membudayakan transfer pengetahuan.”

Pernyataan ini didukung pula oleh Prof. Jann Hidajat. Menurut Jann, salah satu stagnasi lahirnya ide dan inovasi baru adalah iklim kerja yang tidak mendukung. “Kita harus membangun organisasi yang menciptakan habitat bagi manusia di dalamnya untuk bebas berpikir dan berinovasi. Dan itu dimulai dari kepemimpinan. Pemimpin harus punya komitmen memberikan ruang bagi anggotanya agar mau berkembang,” ungkap Jann yang juga merupakan presiden Knowledge Management Society Indonesia itu.

Sistem Manajemen Pengetahuan PPI UK

Dalam acara tersebut, PPI UK juga melakukan launching sistem manajemen pengetahuan untuk para pelajar Indonesia di Inggris Raya yang diberi nama PUSTAKA. “Sejauh ini sensus PPI UK sudah mendata lebih dari 1.200 mahasiswa di Inggris Raya dengan beragam latar keilmuan. Ini merupakan sumber pengetahuan yang perlu dikelola dengan baik,” papar Dyah, mahasiswi doktoral di Queen Mary University of London yang menjadi narasumber mewakili PPI UK dalam diskusi tersebut.

Ada empat komponen utama PUSTAKA sebagai sistem manajemen pengetahuan PPI UK. “Pertama, kami menginisiasi delapan forum klaster keilmuan untuk pelajar Indonesia di Inggris. Para pelajar yang tergabung dalam klaster ini secara rutin mendiskusikan solusi bagi berbagai permasalahan di Indonesia sejalan dengan prioritas riset nasional. Kami berusaha membangun budaya diskusi yang merupakan kunci dari manajemen pengetahuan,” ujar Dyah.

Kedua, PUSTAKA mendokumentasikan hasil diskusi dan pemikiran para pelajar tersebut ke dalam bentuk artikel akademis populer yang bisa diakses secara terbuka di website PPI UK. Ketiga, PUSTAKA berfungsi sebagai knowledge hub, mengumpulkan karya ilmiah para pelajar Indonesia di UK seperti tesis, desertasi, maupun karya tulis yang diterbitkan di jurnal akademis. Terakhir, PUSTAKA juga menyediakan forum online dimana para pelajar bisa berdiskusi secara sistematis dan terdokumentasi.

“Puncak dari manajemen pengetahuan PPI UK adalah Indonesian Scholar International Convention, sebuah konferensi akademik yang akan diselenggarakan pada bulan Juli nanti dengan tema Indonesia Levelling Up dan Enhancing Crisis Resilience,” ungkap Dyah.

Kehadiran PUSTAKA ini sejalan dengan pernyataan ketua PPI UK, Gatot Subroto, yang menekankan pentingnya organisasi pelajar Indonesia di luar negeri untuk menghimpun pengetahuan para pelajar yang merupakan aset penting untuk membangun Indonesia. “Dengan mengelola pengetahuan para pelajar, PPI bisa menjadi gerakan politik yang berfungsi sebagai mitra strategis pemerintah.”

Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Raya, Desra Percaya, menyambut baik kehadiran platform manajamen pengetahuan PPI UK ini sebagai sumber pengetahuan digital berkelanjutan. “Harapannya buah pikiran para pelajar ini bisa dimanfaatkan di tanah air untuk kemajuan Indonesia, baik dalam bentuk rekomendasi kebijakan bagi pemerintah maupun prototype hasil riset,” pungkasnya.

Reporter Biro Eropa: Zaynita Gibbons
Editor: Mulyono Sri Hutomo

ADVERTISEMENT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *