Indonesia dan Pancasila Kita

oleh
Sunu Wibirama Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Sunu Wibirama (Universitas Gadjah Mada, Indonesia). Foto: Instagram/@Sunu_Wibirama

Oleh: Sunu Wibirama (Universitas Gadjah Mada, Indonesia)

Kadang kita akan merasakan syukur yang luar biasa bahwa kita adalah bagian dari Bangsa Indonesia saat kita melawat ke negara lain dan mencoba memperkenalkan keunikan negara kita di depan khalayak internasional. Bagaimana ceritanya?

Tahun 2016 saya mendapatkan undangan untuk menjalin kerja sama internasional di sebuah universitas di Turki, Anadolu University. Anadolu University berlokasi di kota Eskisehir. Universitas ini termasuk salah satu universitas yang mempunyai mahasiswa terbanyak di seluruh daratan Eropa karena faktor “distance education” yang sudah cukup maju. Anadolu University memiliki sekitar dua juta mahasiswa Turki yang ada di dalam maupun di luar negeri yang sudah dan sedang tergabung dalam proses distance learning. Menariknya, universitas ini juga memiliki bandara sendiri yang digunakan langsung sebagai sarana praktik untuk sekolah penerbangan (Aviation School), sekaligus membangun sport hall, lapangan basket, voli, dan lapangan sepakbola untuk Fakultas Olahraga.

Selain berdiskusi peluang kerja sama penelitian, saya juga diminta untuk berbagi pengalaman dan hal-hal yang sudah saya lakukan di UGM. Tentu topik kuliah tamu yang saya sampaikan sangat teknis: “Introductory Techniques for 3D Point of Gaze Estimation in Virtual Environments”–mengulas teknologi identifikasi arah pandangan mata pada interaksi di teknologi realitas (virtual reality). Meskipun demikian, saya ingin berbicara lebih dari hal-hal yang bersifat teknis. Saya ingin memperkenalkan Indonesia.

Di awal presentasi, saya mencoba mengupas hal-hal unik tentang negara kita, Indonesia. Slide presentasi yang saya susun lumayan intuitif untuk menggambarkan seberapa besar ukuran negara kita dibandingkan Turki (terlampir di foto bagian paling bawah). Anda semua bisa melihat bahwa negara kita terbentang dari Polandia di daratan Eropa sampai dengan daratan Asia, melewati Tajikistan, Uzbekiztan, dan Kyrgyzstan. Apa artinya? Negara kita memiliki cakupan laut dan darat yang SANGAT luas. Selain itu kita memiliki lebih dari 13.000 pulau (ya, Anda tidak salah baca, 13 ribu), sekitar 300 kelompok etnis dengan lebih dari 700 bahasa daerah.

Di akhir dua slide itu saya lalu menegaskan kalimat seperti ini, “Now you see that with huge diversities in our country, maintaining stability and unity in Indonesia is A BIG DEAL”. Ya, saya ingin menegaskan bahwa permasalahan yang dihadapi negara kita sebenarnya lebih rumit karena kita punya 300 etnis, sementara Turki memiliki 51 kelompok etnis, dengan dua etnis terbesar yakni Turkish dan Kurdi. Di sisi lain, masyarakat Indonesia tersebar sedemikian rupa di ribuan pulau dengan selat dan lautan yang menghubungkannya. Jauh lebih rumit dibandingkan Turki yang sebagian besar wilayahnya adalah daratan.

Saya lalu menambahkan bahwa Indonesia adalah negara yang relatif aman dan harmonis karena kita memiliki Pancasila. Kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika–berbeda tetapi tetap satu, unity in diversity. Saat itu saya bahkan berkelakar seperti ini, barangkali Indonesia adalah negara paling unik di dunia karena punya 12 hari libur keagamaan untuk 6 agama yang diakui secara nasional. “I like to stay in Indonesia, there are many religious holidays”, yang disusul dengan gelak tawa hadirin. Sejauh pengalaman saya berbagi cerita dengan mahasiswa atau profesional yang hidup di negara lain, tak pernah ada negara yang sedemikian tolerannya mengakomodasi libur hari raya semua agama yang diakui secara resmi oleh pemerintah.

Maka di hari lahir Pancasila ini, mari kita sejenak merenungi dan mensyukuri betapa beruntungnya kita hidup di negara kita. Founding fathers kita memiliki visi yang sedemikian panjang, yang dengannya pula lahir konsep Pancasila. Hendaknya kita tak hanya mendengungkan Pancasila sebagai slogan, tapi benar-benar menerapkannya dalam kehidupan kita. Dengan Pancasila, kebebasan beragama diakui dan bahkan dilindungi oleh negara. Dengan Pancasila, nilai-nilai hak asasi kemanusiaan seharusnya dilindungi dan dibela oleh negara. Dengan Pancasila, keutuhan negara dan persatuan nasional seharusnya lebih diutamakan dengan mengeliminasi hoax yang tidak bertanggung jawab. Dengan Pancasila, nilai-nilai kerakyatan diakomodasi dengan konsep perwakilan dan musyawarah yang mewakili kepentingan rakyat, bukan kepentingan oligarki pihak tertentu. Dengan Pancasila, seharusnya keadilan dan persamaan di depan hukum ditegakkan untuk semua warga negara, terlepas dari apapun pilihan politik mereka. Pendek kata, Pancasila menjadi pedoman agar agama, keturunan, jiwa, akal, dan harta mendapatkan perlindungan yang layak dari negara.

Sudahkah kita menghayati dan menerapkan nilai-nilai Pancasila?

Selamat hari lahir Pancasila.

Tabik,

Yogyakarta 1 Juni 2021

***

Dr. Sunu Wibirama adalah Assistant Professor (Dr.Eng.) di Universitas Gadjah Mada, Indonesia.

Dr. Sunu Wibirama berafiliasi pada Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Ia adalah Ketua dari IEEE Systems, Man, and Cybernetics Indonesia Chapter (2019-sekarang). Dr. Sunu Wibirama adalah ahli pada bidang riset intelligent user experience engineering pertama di Indonesia yang telah mendedikasikan lebih dari 12 tahun karir akademisnya untuk menginvestigasi dan mengembangkan berbagai sistem cerdas berbasis teknologi pemindai gerakan mata (eye tracking) dan kecerdasan buatan (AI).

Dr. Sunu Wibirama dapat diikuti di media sosial Facebook: https://www.facebook.com/WibiramaSunu. Tulisan ini diterbitkan kali pertama di laman Facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *