Reboisasi Mangrove, Cara Pertamina Selamatkan Pesisir Pantai

by -2,312 views
Reboisasi Mangrove, Cara Pertamina Selamatkan Pesisir Pantai
Reboisasi Mangrove, Cara Pertamina Selamatkan Pesisir Pantai

Jakarta, indomaritim.id – Reboisasi mangrove menjadi penting untuk segera dilakukan. Reboisasi mangrove menjadi satu cara mencegah abrasi laut di pesisir pantai. Untuk menyelamatkan bumi dari terkikisnya daratan oleh lautan.

Planet Bumi semakin menua untuk dihuni manusia. Berdasarkan penanggalan radiometrik meteorit, saat ini Bumi telah berusia lebih dari 4,543 miliar tahun. Ini menandakan, planet tempat manusia bergantung hidup sudah teramat tua.

Seperti dilansir laman Liputan6, University of East Anglia, Inggris memperkirakan, Bumi masih mampu menopang kehidupan setidaknya selama 1,75 miliar tahun mendatang. Namun, syaratnya, bencana dahsyat tak boleh terjadi.

Syarat tersebut rasanya tak mungkin tercapai mengingat kondisi Bumi sekarang makin merana. Hutan-hutan lebat kian langka, gundukan es di kawasan kutub terus mencair, hingga suhu udara yang makin panas saja merupakan akibat dari beragam kerusakan lingkungan.

Penyebabnya, seperti pencemaran, degradasi lahan, sampai pemakaian energi berlebihan yang membuat Bumi semakin sakit. Oleh karena itu, tak sedikit individu yang mulai bergerak mengampanyekan aksi-aksi cinta lingkungan.

Sejatinya, menyelamatkan bumi bukanlah pekerjaan rumah segelintir orang, seperti pemerintah ataupun organisasi pegiat lingkungan hidup semata. Semua warga dunia memiliki tugas yang sama.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk mencegah kerusakan bumi semakin parah adalah merestorasi lingkungan. Seperti diketahui, berkurangnya jumlah pohon yang berfungsi sebagai penetralisir udara yang ada di Bumi akan membuat produksi karbon sulit dikendalikan.

Produksi karbon yang berlebihan akan mempercepat proses penipisan lapisan ozon. Karena itu, Pertamina memiki kewajiban untuk peduli pada pelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasinya melakukan kegiatan restorasi lingkungan, termasuk diantaranya restorasi mangrove.

Berikut cara Pertamina merestorasi lingkungan, termasuk diantaranya resorasi hutan mangrove:

Penghijauan Hutan Kota Sepinggan, Kalimantan Barat

Tahun 2015, Pertamina melakukan kerja sama melalui Unit Depot Pengisian Udara Sepinggan dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Balikpapan, Kalimantan Barat. Kerja sama ini menitikberatkan peran Pertamina dalam pengembangan Hutan Kota Sepinggan.

Pertamina berusaha memperbaiki tingkat keanekaragaman Hayati Hutan Kota seluas 0,292 hektare ini, juga meningkatkan minat masyarakat terhadap edukasi keanekaragaman hayati.

Reboisasi Mangrove Pantai Karangsong, Jawa Barat

Pantai Karangsong terletak di kecamatan Indramayu, Indramayu, Jawa Barat. Di pantai ini, kegiatan restorasi mangrove di Pantai Karangsong dimulai dari tahun 2008. Menurut Ketua Kelompok Tani Jaka Kencana Abdul Latif, awalnya apa yang mereka lakukan semata-semata agar pohon mangrove yang banyak dibabat sejak tahun 1990-an kembali seperti semula.

Kondisi hutan mangrove di Pantai Karansong rusak, setelah nelayan yang tinggal di pesisir Pantai Karangsong tertarik membuat tambak udang. Padahal, perkembangan tambak udang berakibat pada tandusnya wilayah pesisir pantai sehingga terjadi abrasi. Lambat laun, kondisi ini membuat kehidupan ekonomi warga Desa Pabean Udik pun terkena imbasnya.

Seiring berjalannya waktu, program restorasi mangrove yang digalakkan masyarakat dibantu pemerintah dan Pertamina ini pun berhasil menghijaukan wilayah pesisir. Tak hanya bersih dan lestari, kini kawasan yang memiliki luas 62,30 ha tersebut berhasil direstorasi menjadi destinasi wisata baru di Indramayu.

Bahkan, objek wisata baru ini pun menjadi sumber mata pencaharian baru bagi masyarakat sekitar dengan menjalani profesi sebagai pemandu wisata.

Anak usaha Pertamina, RU VI Balongan juga menginisiasi pengembangan berupa konservasi mangrove, pendampingan dan pemberdayaan kelompok masyarakat, pengembangan sarana dan prasana, serta melakukan penelitian dan studi inovasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama kelompok masyarakat seperti Pantai Lestari dan Jaka Kencana, juga dengan dinas-dinas terkait di Pemerintah Daerah Indramayu.

Tak hanya di bidang lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, di bidang pendidikan, RU VI Balongan menginisiasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan tematik mangrove.

Dengan hadirnya sekolah tersebut diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat khususnya generasi penerus bangsa ini, mengenai manfaat reboisasi mangrove.

Pada 2017, Pertamina bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu mendorong pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup (PLH) tematik mangrove di 11 sekolah dasar (SD) di tiga kecamatan di Kabupaten Indramayu.

Pada 2018, jumlah sekolah yang menerapkan PLH tematik mangrove makin meningkat dan tersebar di sebagian besar wilayah Indramayu. Mengingat Indramayu merupakan kabupaten dengan garis pantai yang cukup panjang, PLH tematik mangrove diharapkan mampu menggerakkan generasi penerus Indramayu untuk membawa tongkat estafet sebagai penjaga lingkungan pantai kabupaten tersebut.

Baca Juga: Kurau, Tujuan Wisata Mangrove di Bangka Belitung

Taman Mangrove Labuhan, Jawa Timur

Besarnya manfaat habitat mangrove bagi kelangsungan hidup manusia maupun ekosistem laut lain yang ada di sekitarnya menjadikan Pertamina gencar melakukan upaya-upaya pelestarian habitat mangrove dari kemungkinan adanya kerusakan.

Salah satunya seperti yang dilakukan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) medio 2013 lalu. PHE WMO melakukan reboisasi mangrove dengan penanaman sebanyak 10.000 bibit mangrove pohon dan Cemara laut dikawasan Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur sebagai upaya reboisasi mangrove.

Kegiatan tersebut melibatkan Bupati Kabupaten Bangkalan dan Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Namun sayang, dalam pelaksanaannya kegiatan ini tak berjalan lancar. Kendala teknis penanaman menyebabkan program ini tidak berhasil.

Tak berhenti sampai di situ, upaya lain pun dilakukan. Puncaknya, pada tahun 2017 PHE WMO membangun sebuah sarana edukasi tentang mangrove yang diberi nama Taman Pendidikan Mangrove Desa Labuhan.

Selain demi kelestarian lingkungan, program ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat pentingnya ekosistem bagi manusia dan ekosistem lain di sekitarnya.

Taman Pendidikan Mangrove merupakan program diprakarsai oleh Pertamina dengan menggandeng masyarakat sekitar yang tergabung dalam Kelompok Tani Mangrove Cemara Sejahtera.

Program ini pun membawa banyak dampak positif, tak hanya bagi kelestarian lingkungan tapi juga bagi warga sekitar. Kehidupan masyarakatnya mulai bergeliat tumbuh menjadi lebih baik, sebagian masyarakat yang selama ini pengangguran telah mendapatkan pekerjaan dan tidak harus kembali menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) lagi.

Keberadaan Taman Pendidikan Mangrove ini mendapat sambutan yang luar biasa dari kalangan masyarakat Desa Labuhan, Pendidikan Dasar, Pendidikan Tinggi, Peneliti, Swasta dan tentunya Pemerintah baik tingkat kabupaten Bangkalan, Propinsi Jawa Timur, hingga tingkat Nasional.

Lahan Gambut Sei Paking, Riau

Medio 2013 hingga 2015 merupakan saat-saat kelam bagi masyarakat yang tinggal di kawasan Kelurahan Sei Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau karena terjadi kebakaran lahan gambut dan sulit untuk dipadamkan.

Kebakaran tersebut mengakibatkan bencana asap yang tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, namun juga merugikan secara materiil dan moril. Akibatnya, kualitas udara diwilayah itu pun memburuk. Mayoritas warga mengalami gangguan kesehatan akibat Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Prihatin akan musibah yang terjadi, Pertamina Refinery Unit (RU) II Sei Pakning bersama Sadikin dan beberapa warga Kampung Jawa yang menjadi relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) melakukan beragam upaya penanganan guna menanggulangi kebakaran lahan dan hutan, baik dari operasional perusahaan maupun nonoperasional.

Tak sampai di situ, Pertamina merangkul Kelompok Tani Tunas Makmur mengembangkan program CSR yang berkelanjutan dengan tujuan memanfaatkan lahan bekas terbakar yang memiliki nilai ekonomi, sosial, maupun lingkungan untuk pemberdayaan masyarakat.

Program tersebut dinamakan program Kampung Gambut Berdikari. Program ini berisikan mulai dari penambahan peralatan pemadaman, pembentukan Forum komunikasi MPA (FORKOMPA), pelatihan pemadaman, hingga pemanfaatan lahan bekas terbakar melalui pertanian budidaya nanas dan diversifikasi pengolahan produk nanas seperti keripik, dodol, manisan, selai, telah dijalankan dan terus berkembang dari tahun ke tahun.

Pada 2016, Pertamina RU II juga mendirikan Arboretum gambut pertama di Sumatera. Arboretum Gambut tersebut memiliki daya tarik tersendiri karena menyimpan lima tanaman endemik Sumatera yang salah satunya tercatat sebagai hampir punah (vulnerable) di IUCN, yaitu Kantung Semar (Nepenthes spectabillis).

Program ini merupakan integrasi dari kegiatankegiatan pemberdayaan masyarakat yang memiliki roadmap secara berkelanjutan. Dimulai dari kegiatan donasi (charity) kemudian terus berkembang menjadi kegiatan peningkatan kapasitas (capacity building) maupun pengembangan masyarakat (community empowerment).

Penanaman Mangrove di Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah

Laguna yang berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Nusakambangan, Segara Anakan, juga menjadi wilayah yang direstorasi oleh Pertamina. Segara Anakan merupakan kawasan perairan yang didominasi hamparan hutan bakau (mangrove) yang sangat luas.

Hutan mangrove yang ada di kawasan ini memiliki peran besar terhadap tingginya hasil perikanan di laguna Segara Anakan. Mulai dari ikan, udang, kepiting dan fauna lainnya, seperti burung dan aneka reptile. Tak heran jika mayoritas warga sekitar berprofesi sebagai nelayan ikan dan penambak udang.

Melihat pentingnya hal tersebut, sejak tahun 2009-2016 Pertamina RU IV Cilacap bersama salah satu warga di sana, Wahyono, berperan aktif untuk membantu menghijaukan kembali hutan mangrove yang berada di kawasan Segara Anakan untuk menjaga ekosistem ikan-ikan dan biota lainnya.

Penanaman ini telah menghasilkan sebanyak 1.230.000 pohon mangrove dengan luas penanaman sebesar 68,77 Hektar dengan jumlah 46 jenis yang telah teridentifikasi. Penanaman Mangrove di Segara Anakan berdampak positif bagi masyarakat sekitar.

Reboisasi mangrove Segara Anakan, menjadi tempat wisata alternatif, membuka lapangan pekerjaan di area wisata mangrove, meningkatkan kembali hasil tangkapan dan budidaya ikan ataupun udang para nelayan.

Selain itu, penanaman pohon mangrove juga dapat mengatasi masalah degradasi lahan akibat sedimentasi, karena mangrove merupakan tanaman yang membutuhkan dan menyerap banyak air. Langkah reboisasi mangrove ini terus dilakukan.

Ekowisata Mangrove Wanasari, Bali

Satu lagi program Pertamina dalam hal pelestarian hutan mangrove berada di kawasan Tuban, Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Di wilayah ini terkenal dengan tradisi masyarakatnya yang secara turun temurun menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan laut.

Namun sayang, untuk menambah penghasilan, warga memanfaatkan pesisir laut yang kaya akan terumbu karang untuk dijadikan sebagai bahan bangunan dan batu kapur yang dijual untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur pariwisata maupun perumahan.

Parahnya, untuk mengambil karang tersebut, pihak yang tak bertanggung jawab itu melakukan pembakaran dengan menggunakan kayu-kayu dari hasil penebangan di hutan bakau yang ada di tepi pantai. Sementara daunnya digunakan untuk pakan ternak. Tak heran kondisi hutan mangrove di kawasan Tuban, Kuta memprihatinkan.

Salah satu warga, Made Sumasa melakukan upaya penyelamatan dengan mengembangkan budi daya kepiting bakau. Teknik yang digunakan adalah membuat keramba yang mengelilingi pohon bakau sehingga kelestarian bakau bisa terjaga dan sampah pun otomatis harus dibersihkan.

Teknik sederhana yang memanfaatkan bambu serta jaring ikan ini dirasa cukup berhasil bahkan kepiting tersebut diekspor hingga luar negeri.

Perjuangan Made Sumasa pun tak sia-sia. Warga lainnya tergerak untuk mengikuti cara Made Sumasa dalam melestarikan ekosistem bakau. Untuk mengoptimalkan upaya yang ada, Made bersama dengan warga lainnya pun menyulap kawasan tersebut menjadi ekowisata terpadu yang menyatukan budidaya kepiting dengan pengelolaan hutan bakau sebagai daya tarik wisata dan pengembangan kuliner lokal.

Tak sendiri, dalam pengembangan obyek wisata ini, masyarakat juga mendapat dukungan dari Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina Ngurah Rai. Dalam mendorong realisasi kawasan ini menjadi ekowisata, Pertamina melalui DPPU Ngurah Rai memberikan bantuan yang dikucurkan sejak 2010 lalu, seperti bantuan fasilitas jaring nelayan, penanaman mangrove, pengembangan budi daya kepiting, pelatihan pengelolaan buah mangrove, pelatihan pembibitan kepiting bakau, dan pengembangan fasilitas ekowisata mangrove Wanasari.

Sekarang, wisatawan bisa memanfaatkan jogging track dan gazebo di atas laut yang berfungsi sebagai restoran. Mereka bisa melakukan kegiatan wisata perahu menjelajahi hutan bakau, memancing di selasela hutan bakau, ataupun bermain kano.

Taman Bawah Laut Karimunjawa, Jawa Tengah

Tak hanya pelestarian hutan mangrove di wilayah pesisir, Pertamina juga melakukan penyelamatan terhadap ekosistem terumbu karang melalui program taman bawah laut dengan cara transplantasi terumbu karang yang dilaksanakan di sekitar pantai Tanjung Gelam yang berada dalam kawasan Kepulauan Karimunjawa, yang termasuk dalam Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.

Program taman laut sendiri bertujuan untuk melakukan restorasi terumbu yang nantinya menyerupai taman bawah laut. Dengan menggandeng HDI Foundation dan masyarakat sekitar, melalui program ini Pertamina berupaya untuk meningkatkan dan melindungi sumber daya laut Kepulauan Karimunjawa dalam aspek alam, sosial kemasyarakatan, sumberdaya manusia dan ekonomi.

Program ini menggunakan metode biorock yakni proses teknologi deposit elektro mineral yang berlangsung di dalam laut.

Sejak pertama kali dimulainya program ini pada 1 Oktober 2016, Pertamina bersama masyarakat sekitar telah berhasil menanam sedikitnya 465 unit terumbu karang di taman bawah laut tersebut. Di lokasi tersebut, Pertamina membangun kerangka tematik dimana di setiap kerangkanya ditanam terumbu karang.

Total kerangka adalah satu kerangka berbentuk dome, satu kerangka berbentuk mobil dan enam lainnya adalah kerangka berbentuk terowongan. Tidak hanya sekadar menggalakkan program taman bawah laut, Pertamina secara rutin juga memberikan edukasi melalui kegiatan sosialisasi maupun penyuluhan kepada warga di sekitar pesisir Karimunjawa terkait pelestarian ekosistem laut khususnya terumbu karang.

Zaenal Wafa Zen, salah seorang warga menyatakan bahwa masyarakat sekitar mengapresiasi adanya program taman bawah laut tersebut. Menurutnya, pasca adanya program taman bawah laut, menurutnya kesadaran masyarakat akan upaya melestarikan ekosistem lautpun semakin meningkat.

Oleh sebab itu, ia berharap agar program ini terus dijalankan mengingat banyaknya manfaat yang diberikan.

Kolak Sekancil, Wisata Bakau Terlengkap di Indonesia

Pertamina Refinery Unit IV Cilacap terus konsisten menjaga kelestarian hutan mangrove di wilayah konservasi Laguna Segara Anakan, Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah dengan menanam lebih dari 1,2 juta pohon mangrove dalam kurun waktu 10 tahun terakhir untuk reboisasi mangrove.

Alhasil, Segara Anakan, kini menjelma menjadi kawasan wisata mangrove terlengkap di Indonesia dengan 46 jenis mangrove tersertifikasi dan lebih dari 50 jenis mangrove telah teridentifikasi dengan aneka ragam flora dan fauna lainnya yang terdapat di kawasan ini.

Unit Manager Comm CSR RU IV Cilacap, Laode Syarifuddin Mursali mengatakan sejak tahun 2016 Pertamina bersama Kelompok Krida Wana Lestari mulai mengembangkan Arboretum Mangrove Kolak Sekancil (Konservasi Laguna Segara Anakan Cilacap) yang dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kelestarian hutan mangrove di wilayah Segara Anakan.

“Pelestarian ekosistem mangrove Kolak Sekancil dilakukan dengan memberdayakan masyarakat sekitar, sehingga keberadaan hutan mangrove ini tidak hanya untuk menjaga lingkungan tetapi juga memberikan pemberdayaan secara ekonomi kepada masyarakat,” ujar Laode.

Selain dapat menjumpai beranekaragam jenis mangrove di kawasan wisata mangrove Kolak Sekancil, Laode mengatakan kawasan ini memiliki 64 jenis burung, 8 jenis mamalia dan 3 jenis reptil. Dimana terdapat juga 2 spesies flora dan 12 fauna dengan status konservasi tinggi.

“Beranekaragamnya jenis flora dan fauna di Arboretum mangrove Kolak Sekancil juga sering dimanfaatkan menjadi tempat penelitian dan pendidikan bagi generasi muda, terutama pelajar, untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kelestarian lingkungan,” imbuh Laode.

Secara konsisten pun Pertamina bersama masyarakat terus mengembangkan pembibitan berbagai jenis mangrove langka, sehingga diharapkan akan lebih banyak jenis mangrove yang berhasil diselamatkan. Saat ini sudah mulai dilakukan pembibitan 4 jenis mangrove langka serta sudah ada 8 jenis mangrove tersertifikasi.

Dengan hadirnya kawasan edu-wisata mangrove ini, kawasan ini mampu menyerap CO2 (karbon dioksida) sebesar 41.371.680 pon/tahun dan memproduksi O2 sebesar 224.096.600 pon/tahun. Bahkan limbah buah mangrove sekitar 95 ton per tahun dimanfaatkan para perajin batik di wilayah ini untuk pewarna alami. Jadi selain melestarikan alam, sekaligus juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terang Laode.

Dampak kemandirian ekonomi sangat terasa, dengan hadirnya edu-wisata mangrove ini juga memberikan pendapatan kelompok pengelola yang kurang lebih 25% pendapatan rata – rata anggota sudah diatas UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten). Dalam tiga tahun terakhir, pendapatan kelompok meningkat dari Rp 114 juta pada tahun 2017 menjadi Rp 163 juta (2018) dan Rp 183 juta (2019) dengan rata – rata omzet lebih dari 20 juta per bulan.

“Dengan mandiri secara ekonomi yang sekarang mampu membuat lapangan pekerjaan untuk 43 orang, diharapkan edu-wisata mangrove ini ke depan terus berkembang dan menjadi icon wisata Kabaputen Cilacap yang dihadiri banyak wisatawan lokal maupun mancanegara,” pungkas Laode.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *